Wujud Syukur Kepada Allah

Tuesday, 8 January 2013 Labels:

Halo Blogger dah lama nih gak posting Inspiring, inspiring kali ini tentang  apa itu yang di maksud Makna syukur.


Syukur merupakan salah satu kata yang sangat mudah diucapkan, namun sulit untuk diungkapkan. Karena, ungkapan jauh lebih berarti dari sekedar ucapan. Mengungkapkan rasa sukur berarti melakukan sesuatu. Di dalam Al Qur’an Allah SWT berfirman:
“Karena itu ingatlah kamu kepadaKu niscaya Aku ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah kepadaKu, dan janganlah kamu mengingkari (ni’mat)Ku.”. QS Al Baqarah[2]:152.
Lebih jauh, di dalam tafsir Jalalain dikatakan bahwa rasa syukur harus ditunjukkan dengan jalan taat kepada Allah SWT. Sedangkan pengingkaran terhadap nikmatNya dapat tergambarkan dalam perbuatan maksiat dan durhaka kepada Allah SWT. Hal ini menunjukkan bahwa ungkapan rasa syukur bukan hanya dengan pengucapan kalimah syukur semata, melainkan aktivitas nyata berupa ketaatan kepada Sang Pemberi Nikmat, Allah Azza wa Jalla.

Contoh
Jika seseorang diberikan nikmat kelebihan harta, maka  wujud syukur orang tersebut adalah mengeluarkan sebagian hartanya untuk zakat, shadaqah, infaq, dsb.
Jika seseorang diberikan nikmat kesempurnaan panca indera, maka dia harus menggunakan inderanya tersebut untuk amal kebajikan sebagai wujud syukur.
Apabila seseorang diberikan nikmat akal sehat, maka dia harus menggunakan akalnya untuk kemaslahatan umat sebagai bentuk rasa syukurnya atas nikmat yang telah Allah SWT berikan.

Kabar Allah SWT
Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika Allah SWT mengabarkan betapa sedikitnya orang-orang yang bersyukur atas nikmat yang telah diberikanNya, betapapun Allah memudahkan manusia dalam urusannya. Dalam QS Al Maa’idah[5]:6, Allah berfirman
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu, Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.”. QS Al Maa’idah[5]:6
Begitu pula di dalam menjalankan shalat. Jika kita dalam keadaan sakit yang tidak memungkinkan untuk berdiri, maka Allah mengijinkan kita shalat denganm duduk. Jika duduk tidak mampu, maka dengan berbaring. Namun demikian, tetap saja hanya sedikit orang yang mau bersyukur.
“… Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas manusia, tetapi kebanyakan mereka tidak mensyukuri(nya).”. QS Yunus[10]:60
“Sesungguhnya kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi itu (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur.”. QS Al A’raaf[7]:10
Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang berbunyi serupa dengan kedua ayat di atas, diantaranya: QS Yusuf[12]:38, Al Mu’ minuun[23]:78, An Naml[27]: 73, dan Al Mu’min[40]: 61. Bahkan di dalam QS Ar Rahmaan[55] Allah SWT mengulangi pertanyaan retorisNya sebanyak 31 kali.
“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”
Ada sebuah hadits yang terkait dengan ayat di atas. Diriwayatkan oleh imam Hakim melalui Jabir r.a. yang telah mencertiakan bahwa Rasulullah SAW membacakan kepada kami surat Ar Rahmaan hingga selesai. Kemudian beliau bersabda: “Mengapa kalian ini diam saja? Sungguh jin lebih baik jawabannya daripada kalian. Karena sesungguhnya tiada sekali-kali aku bacakan kepada mereka ayat ini,
“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”
melainkan mereka menjawabnya: “Wahai Rabb kami, tiada satupun nikmatMu yang kami dustakan, bagiMu segala puji.”.
Demikianlah Allah SWT mengabarkan betapa kebanyakan dari manusia tidak mensyukuri nikmat dan karunia yang telah diberikanNya. 

Kewajiban Bersyukur
Mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan adalah suatu kewajiban.
 “Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman?...”. QS An Nisa[4]:147
Tiada alasan bagi Allah SWT untuk menyiksa orang-orang yang bersyukur. Selain itu, bersyukur pada hakekatnya bukanlah untuk Allah SWT melainkan untuk diri kita sendiri. 
“… Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Rabbku Maha Kaya lagi Maha Mulia.”. QS An Naml[27]:40
Ayat di atas senada dengan QS Luqman[31]:12. Tidak sampai di situ, Allah SWT juga berjanji akan menambah nikmatnya bagi orang-orang yang bersyukur disamping azab bagi orang-orang yang kufur nikmat.
“Dan (ingatlah juga), takala Rabbmu mema'lumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azabKu sangat pedih".”. QS Ibrahim[14]:7

Simpulan
Akhirnya, marilah kita jadikan segala aktivitas kita sebagai ibadah dalam rangka ketaatan kepada Allah SWT. Sehingga kita menjadi orang-orang yang bersukur atas segala nikmat yang telah Allah SWT berikan. Dan dengannya kita terhindar dari azab dan siksa Allah yang sungguh-sungguh pedih. Wallahu alam bishshawab.

0 comments:

Post a Comment